You are here > Home Laporan Utama Edisi 2009 Januari Krisis Ekonomi Global Merebak
Wed 08 Feb 2012
Krisis Ekonomi Global Merebak Cetak Surel
perajinBerlangsungnya krisis finansial global sejak tahun lalu telah menimbulkan dampak kurang menggembirakan bagi pertumbuhan ekonomi di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia.Kegiatan produksi di kalangan industri manufaktur yang berorientasi ekspor menurun volumenya, karena daya serap pasar dunia telah melemah.


Mau tak mau, kalangan industri skala kecil menengah (IKM) bahkan skala rumahan di Jawa Timur juga terkena imbas krisis finansial global itu. Soalnya, industri skala besar lazim bermitra dengan IKM berupa penyerapan produk maupun komponen tertentu untuk memenuhi permintaan pasar internasional. Sebut saja misalnya industri mebel, sepatu maupun produk berbahan baku logam, dimana dalam sektor industri tersebut selalu terjadi hubungan bisnis yang melibatkan industri besar dengan industri kecil menengah.
Bagi usaha kecil menengah (UKM) yang melakukan ekspor sendiri maupun melalui pihak ketiga juga telah merasakan getirnya krisis tersebut. Selain menurunnya pesanan dari importir di banyak negara, harga produk pun tidak bisa dinaikkan di tengah meningkatnya biaya produksi terkait kenaikan upah serta harga bahan baku.

Jadi, gambaran perekonomian sepanjang tahun ini diyakini akan cukup suram yang diikuti bakal terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut ditambah dengan kedatangan ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan dari sejumlah negara.Tetapi sektor UKM diyakini akan tetap menggeliat dan dapat diandalkan sebagai penyerap tenaga kerja, karena memiliki daya tahan menghadapi krisis ekonomi. Sektor usaha tersebut juga cukup liat dan fleksibel, sehingga bisa menjadi pengaman terhadap dampak lebih buruk dari berlangsungnya krisis tersebut.

Upaya yang ditawarkan para pakar dalam menggairahkan industri dalam negeri adalah memfokuskan terhadap penjualan ke pasar domestik. Tingkat konsumsi dalam negeri sangat besar, sehingga kalangan UKM perlu mempertahankan pasar domestik melalui pembuatan produk yang berdaya saing tinggi.Langkah demikian harus ditunjang oleh pemerintah berupa program kampanye cinta produk Indonesia.

Order minim
Gejala menurunnya order dari pasar internasional berupa produk sepatu telah berlangsung sejak tahun lalu, dimana kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan kinerja UKM yang memasok cetakan sepatu/shoe last (bahasa Jawa: klebut) di Kab. Sidoarjo. Hal itu dialami oleh PT Mekar Lastindo, industri skala kecil menengah bidang produksi cetakan sepatu berbahan baku aluminium rongsokan.

Aluminium itu dicor dengan tingkat kepanasan tertentu dan dicetak sesuai bentuk dan ukuran yang dipesan oleh industri sepatu skala besar yang berlokasi di Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan dan Jombang.
“Kami kini telah berhenti berproduksi akibat semakin menurunnya pesanan dari pabrikan sepatu, bahkan beberapa pabrik sepatu telah kolaps,” kata Aliyanto Wibowo, pimpinan PT Mekar Lastindo.
Pada 2006 Mekar Lastindo masih mempekerjakan puluhan orang, dan terus menurun hingga akhir 2008 benar-benar lumpuh.

Kalangan industri kecil produsen furnitur berbahan baku rotan maupun kayu juga menurun aktifitasnya, menyusul rendahnya permintaan dari industri skala besar yang umumnya memasarkan produk tersebut ke pasar Amerika Serikat, Eropa dan belahan dunia lainnya.Masalahnya, pesanan dari importir di banyak negara untuk tahun ini masih minim. Produsen mebel skala menengah besar di Jawa Timur yang tergabung Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia (Asmindo) berjumlah 100 perusahaan lebih. Industri tersebut bermitra dengan industri kecil maupun industri rumahan untuk memenuhi volume produksi sesuai order dari mancanegara.

“Tahun ini permintaan produk dari pasar internasional turun tajam, sehingga akan sangat mempengaruhi kegiatan produksi industri mebel di Jatim. Banyak industri mebel di China juga telah tutup dan melakukan PHK,” ujar Oetarjo Harioboedojo, Ketua Asmindo Jatim, belum lama ini.Untuk menyiasati kejenuhan konsumen di mancanegara, para produsen mebel di Jatim melakukan perpaduan bahan baku rotan dengan logam dan menciptakan desain baru. Tetapi volume ekspor belum bisa didongkrak.

Bagi UKM yang telah mampu melakukan ekspor sendiri (tanpa lewat pihak ketiga), akhir-akhir ini juga menghadapi sejumlah kendala. Sebagai contoh adalah produsen bunga artifisial/bunga kering seperti yang dilakoni PT Putri Sekar Kencana yang berlokasi di Surabaya Timur.Perusahaan skala kecil itu telah bertahun-tahun memproduksi bunga kering berbahan baku kulit jagung/klobot yang dipadukan dengan bahan lain seperti pita, kain, manik-manik. Orientasi pasarnya adalah ekspor.

Untuk memenuhi order dari buyer di Eropa, memanfaatkan juga pita impor yang kini harganya mahal akibat melemahnya nilai kurs matauang rupiah atas dolar AS. “Padahal harga jual produk bunga kering ini tidak bisa dinaikkan, buyer di Eropa tidak mau menerima kalau harga naik. Posisi kami sulit sebab banyak pesaing dari negara lain,” tutur Safni Yetty, pimpinan PT Putri Sekar Kencana, belum lama ini. Putri Sekar Kencana awal tahun ini memenuhi peluang pasar bunga kering di Malaysia, dengan memasok ratusan untai produk tersebut seharga Rp8.000/tangkai.

Chief Executive Officer Mark Plus & Co, Hermawan Kertajaya, menyatakan dalam menghadapi krisis ekonomi global sangat penting mempertahankan potensi pasar domestik (Indonesia berpenduduk 220 juta jiwa) agar perusahaan tetap eksis. Tentu para produsen harus mampu menghasilkan produk berdaya saing tinggi, guna menghadapi membludaknya barang-barang impor.Peluang UKM tahun ini masih cukup besar, khususnya dalam memproduksi atribut partai terkait penyelenggaraan pemilihan umum legislatif maupun pemilihan umum presiden.

Fasilitasi calon pengusaha
Bagaimanapun, peran sektor informal dan usaha mikro kecil sangat dibutuhkan dalam mewadahi para korban krisis ekonomi global yakni tenaga kerja yang ter-PHK.Managing Director Regional Economic Development Institute (REDI), Indra Nur Fauzi, memperkirakan potensi PHK di Jatim berkisar 10.000 – 25.000 orang. “Untuk itu Pemprov Jatim perlu menciptakan lapangan kerja padat karya dengan memanfaatkan anggaran yang dimilikinya. Ada dana sekitar Rp6 triliun yang dapat digunakan Pemprov Jatim,” katanya, belum lama ini.
Indra juga mendorong Pemprov Jatim agar memfasilitasi sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) dengan subsidi bunga program kredit lunak 6%/tahun, karena sektor itu tahan terhadap krisis.

Salah satu perusahaan negara yang kini mengantisipasi gelombang PHK adalah PT Jamsostek (Persero) Wilayah VI Jawa Timur, dimana BUMN bidang asuransi ketenagakerjaan itu menyiapkan dana klaim program jaminan hari tua (JHT) senilai Rp477,2 miliar.Kepala PT Jamsostek VI Jatim, Tjipto Rahadi, menyebutkan pihaknya juga mengalokasikan dana hibah Rp500 juta bagi pekerja ter-PHK. “Masing-masing pekerja ter-PHK akan kami beri bantuan dana Rp350.000/orang agar dimanfaatkan sebagai tambahan modal memulai kegiatan usaha mikro,” paparnya.

Dana itu ditujukan pekerja dengan upah 10% di atas besaran upah minimum kota/kabupaten atau Rp1 juta/bulan dan telah mengikuti program jaminan sosial tenaga kerja sekurang-kurangnya satu tahun. Antisipasi yang sama juga dilakukan unsur tripartit di Kab. Sidoarjo (asosiasi pengusaha, serikat pekerja dan pemerintah daerah) dengan membentuk tim penanggulangan krisis global. Bentuknya melakukan pelatihan ketrampilan bagi buruh yang terkena PHK melalui dukungan dana dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans).

“Proposal yang kami ajukan ke Depnakertrans telah disetujui, dimana Depnakertrans akan mendanai pelatihan ketrampilan di balai latihan kerja milik Departemen Perindustrian dan Disnaker,” kata Siswanto Prawiro, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kab. Sidoarjo, belum lama ini.Menurut dia, jumlah industri menengah besar di Kab. Sidoarjo sedikitnya 1.500 unit yang mempekerjakan sekitar 180.000 orang. Sementara terjadinya PHK tidak akan terhindarkan, sebab produk yang diekspor semisal suku cadang otomotif ataupun sepatu kulit berharga mahal tidak mudah dialihkan ke pasar domestik. Untuk itu, para pekerja yang ter-PHK perlu difasilitasi agar mampu memulai usaha sendiri dalam skala kecil-kecilan agar tetap memiliki penghasilan secara berkelanjutan.
 

KAMAR DAGANG INDUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH
[ K A D I N U M K M ]

Jl. Bung Tomo 8A - Surabaya
Telp. (031) 501 5264, Fax. (031) 501 5276
- Best Viewed In 1280 x 1024 Resolution Using Firefox -