You are here > Home Laporan Utama Edisi 2009 Maret Pakar Persusuan: “Harga Layak Susu Segar Rp4.136/liter”
Wed 08 Feb 2012
Pakar Persusuan: “Harga Layak Susu Segar Rp4.136/liter” Cetak Surel
peternak2Harga susu segar yang belakangan mengalami gonjang-ganjing, menarik perhatian kalangan akademisi untuk menghitung ulang berapa harga layak komoditas tersebut di tingkat peternak maupun di tingkat koperasi.

Penghitungan kembali harga susu segar telah dilakukan para pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Universitas Airlanga (Unair) Surabaya serta Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Dalam pertemuan di Surabaya belum lama ini para pakar persusuan itu menetapkan harga layak susu segar adalah Rp4.136/liter dan Rp3.736/liter di tingkat peternak.
Dengan demikian, penetapan standar harga susu segar di tingkat koperasi sebesar Rp 3.560/liter hingga Rp3.785/liter oleh industri pengolahan susu (IPS) dipandang oleh sejumlah pakar persusuan jauh dari harga layak. “Besaran harga susu yang kami hitung ini berdasarkan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh peternak untuk menghasilkan satu liter susu segar,” ujar Hendrawan Soetanto, pakar persusuan dari Unibraw Malang, belum lama ini.
Besaran harga perhitungan baru itu pun lebih besar sekitar Rp 151/liter dibandingkan perhitungan yang dilakukan Dinas Peternakan Jawa Timur sebelumnya yakni Rp3.685/liter di tingkat peternak atau sekitar Rp4.085 /liter di tingkat koperasi. Dari data yang diungkapkan, biaya pakan setiap ekor sapi dengan produksi susu segar 10 liter per hari senilai Rp25.240, biaya non pakan diantaranya penyusutan sapi, penyusutan kandang dan kesehatan hewan per dan tenaga kerja dengan asumsi non UKM Rp 7.250. Sehingga total biaya produksi untuk satu ekor sapi perah Rp.32.490 per hari atau sekitar Rp3.249 per liter. Ditambah dengan biaya ekspektasi profit break event point (BEP) sebesar 15%, maka harga layak susu segar tingkat peternak atau of farm gate price sebesar Rp3.736. Dan di tingkat koperasi, harga layak susu segar menjadi Rp4.136 per liter.
Subsidi
Sementara rendahnya harga susu di tingkat dunia diperkirakan pakar persusuan disebabkan adanya subsidi terselubung yang diberikan oleh pemerintah setempat. Hal ini terbukti dengan besarnya biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak di luar negeri untuk satu liter susu. Hendrawan menambahkan biaya produksi susu di Australia bisa mencapai Rp4.000 per liter. Sementara harga jual di tingkat dunia saat ini diperkirakan sekitar 2.500 per liter.
“Kok bisa tiba di Indonesia harganya serendah itu, padahal mereka masih harus membayar biaya transport. Seharusnya, susu Australia yang masuk Indonesia harganya lebih tinggi dari Rp4.000/liter,” katanya. Dia meminta pemerintah untuk segera bergerak melindungi rakyat khususnya para peternak sapi perah. Karena kondisi mereka saat ini selalu tergilas dan terbebani. Kerjasama antara IPS dan peternak juga harus saling menguntungkan. Bukan kerjasama yang hanya menguntungkan satu pihak saja.
Menurut Hendrawan, selama ini sektor peternakan kurang diperhatikan dan kurang dukungan. Sebagai contoh, lahan pengangon untuk sapi perah semakin habis akibat konversi dan industri dengan tanpa adanya kompensasi. Akibatnya, rumput sulit didapatkan dan harganya menjadi mahal, dari harga normal sebesar Rp25/kg menjadi Rp150/kg. Sehingga peternak lebih memilihpakan konsentrat. Ironisnya, harga konsentrat juga ikut naik menjadi Rp1.800/kg dari tahun lalu Rp900/kg.Untuk mengatasi kondisi ini, lanjutnya, pemerintah harusnya memberikan subsidi kepada para peternak, seperti subsidi pakan. Meninjau ulang penghapusan bea masuk susu impor dan menyediakan lahan pengangon bagi sapi.
 

KAMAR DAGANG INDUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH
[ K A D I N U M K M ]

Jl. Bung Tomo 8A - Surabaya
Telp. (031) 501 5264, Fax. (031) 501 5276
- Best Viewed In 1280 x 1024 Resolution Using Firefox -