|
Pakde Karwo Canangkan Penggunaan Batik Khas Jatim |
|
|
Dinas Koperasi & Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jawa Timur menggelar pameran batik khas Jatim yang merupakan hasil produksi dari sentra kerajinan tersebut di 38 kabupaten/kota se-Jatim. Produk batik tulis khas itu ditempatkan di 38 stan dan diberi tema “Pameran Batik Khas Jawa Timur” tersebut diadakan di Gramedia Expo pada 26 – 27 Oktober 2009.
Even pameran tersebut sekaligus mengusung berbagai bahan untuk membatik seperti cantik dan malam serta demo membatik oleh pembatik berusia belasan tahun hingga 80 tahun lebih. Adapun potensi batik tulis khas Jatim secara keseluruhan ditampilkan oleh para perajin mulai batik dari kabupaten di Jatimbagian Barat seperti Kab. Pacitan dan Kab. Ponorogo, wilayah pesisiran seperti Kab. Tuban. Demikian pula Kab. Sidoarjo, Kota Surabaya menampilkan batik khas setempat ditambah keragaman motif dari kabupaten di Jatim bagian Timur seperti Kab.ber dan Kab. Banyuwangi.
Pameran batik yang tergolong paling lengkap itu dibuka oleh Gubernur Jatim Soekarwo dan Ibu Nina Soekarwo, dimana dalam acara bersamaan digelar pula UKM Award Parasamya Kertanugraha yang dimeriahkan peragaan busana menampilkan 38 peragawati berbusana batik andalan dari 38 kabupaten/kota se-Jatim.Kepala Bidang UMKM Diskop & UMKM Jatim Moch. Hadianto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari rasa syukur atas diakuinya batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco.“Diharapkan melalui ajang pameran ini potensi produk batik khas Jawa Timur dapat terus ditumbuhkan dan dikembangkan sekaligus semakin dikenal oleh masyarakat luas,” ujarnya saat persiapan pameran.Menurut Hadianto, kegiatan “Pameran Batik Khas Jawa Timur” itu juga dimaksudkan untuk memeriahkan Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Timur ke-64. Cinta batik Guna memberikan pemahaman lebih dalam terhadap masyarakat, maka dalam pameran juga disajikan bermacam informasi yang berkaitan dengan dunia perbatikan. Selain menyajikan aneka rupa bahan/peralatan yang dipakai untuk membatik, dapat pula ditonton jenis-jenis kain yang biasa digunakan, termasuk produk batik berusia ratusan tahun warisan leluhur.
Dipertunjukkan juga sosok para pembatik yang terampil mulai remaja belasan tahun hingga berusia 80 tahun lebih. Tentunya para pengunjung pameran diperbolehkan berlatih membuat batik, dan kesempatan itu telah banyak dimanfaatkan oleh pengunjung bahkan Gubernur Jatim Soekarwo yang memperoleh julukan Pakde Karwo pun melakukan praktik membatik.
Dalam even tersebut Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul didampingi Ny. Fatma Saifullah turut hadir serta mengamati potensi batik tulis yang dipajang di stan pameran.Dengan digelarnya pameran batik itu diharapkan masyarakat semakin menyintai produk batik, khususnya batik khas Jatim, dengan sasaran dapat membantu mendongkrak perekonomiam perajin batik.Gubernur Jatim Soekarwo dalam rangkaian acara tersebut mencanangkan penggunaan produk batik Jatim sebagai seragam dinas di lingkungan Pemprov Jatim. Kebijakan tersebut merupakan upaya untuk memperluas pemasarannya, setidaknya dalam tahap awal di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) di tingkat provinsi.Segera sesudah ditandatanganinya prasasti pencanangan penggunaan batik khas Jatim oleh Pakde Karwo, sejumlah instansi telah menindaklanjuti dengan mewajibkan pegawainya untuk berbatik seperti pegawai Diskop & UMKM Jatim mengenakan batik pada Kamis dan Jumat.Koperasi batik Seperti diketahui, usaha batik tulis telah digeluti oleh perajin di kabupaten/kota di Jatim sejak lama dan mereka menghasilkan produk khas daerah masing-masing. Kekhasan itu mencakup motif maupun pewarnaannya antara lain dapat dilihat pada produk batik asal Madura, dimana masing-masing kabupaten yakni Sumenep, Pamekasan dan Bangkalan memiliki batik khas.Demikian pula batik asal Kab. Banyuwangi tampak berbeda dibandingkan produk sejenis asal Kab. Sidoarjo, misalnya, dan batik Kab. Tuban tidak sama dengan batik Kab.Tulungagung. Potensi semacam itu perlu dipromosikan agar lebih berkembang dan memberikan dampak positif bagi perajinnya berupa peningkatan volume usaha. Terlebih-lebih popularitas batik juga telah bergaung secara internasional.Namun, dalam mengembangkan volume usaha, perajin batik umumnya kekurangan modal. Para perajin di tingkat perdesaan umumnya memasarkan terlebih dulu satu atau dua lembar hasil produknya agar dapat membeli bahan baku untuk membatik lagi.Soekarwo mengatakan salah satu kendala yang dihadapi perajin batik, seperti halnya sebagian besar pelaku UKM, adalah ketidak mampuan mengakses dana kredit bank akibat tiada agunan.“Perbankan perlu mencari solusi berupa kemudahan bagi pelaku UKM untuk mengakses dana kredit,” tuturnya saat memberikan sambutan dalam Pameran Batik Khas Jawa Timur 2009 dan gelar UKM Award.Para pelaku industri perbatikan sendiri telah mengalami pahit getirnya menggeluti sektor usaha tersebut tanpa dukungan modal besar. Untuk mengatasi masalah tersebut ada upaya membentuk koperasi batik, dimana lembaga perkoperasian itu menyediakan bahan baku batik yang dapat dibeli anggotanya dengan sistem angsuran.Ketua Bidang Batik Asosiasi Batik dan Bordir Jawa Timur Faiqoh Esmail mengatakan para perajin batik di Jatim kini sangat bersemangat, mengingat peluang bisnis batik terbuka lebar. Tetapi rata-rata terkendala minimnya permodalan untuk pengadaan bahan baku seperti kain,malam dan zat pewarna.“Untuk mengembangkan industri batik di Jatim dibutuhkan koperasi dengan fokus usaha penyediaan bahan baku batik, kami telah mengajukan proposal tentang upaya ini ke seluruh Pemda Kabupaten/Kota di Jatim dan sebagian telah menyatakan dukungannya,” ujarnya, belum lama ini.Keberadaan koperasi batik agaknya merupakan salah satu solusi terbaik sesuai kebutuhan para perajin batik, di tengah kegairahan para pembatik dalam menciptakan motif-motif dan pewarnaan batik guna menarik minat konsumen. |